Pada Suatu Hari

 Judul cukup klasik dari sebuah pembuka cerita narasi fiktif, atau dongeng yang melegenda di suatu daerah. Konon katanya legenda itu nyata, tidak hanya angan-angan. Hasil dari sebuah imajinasi yang tinggi, hingga bias jatuhnya karena mereka tidak menyadari lagi apakah itu merupakan realita atau pura-pura. 

Tiga tahun, bagiku untuk mewujudkan dongengku sendiri. Sebuah legenda yang masih dipercayai bahkan pada orang-orang yang selalu realistis. Tiga tahun bagiku untuk membiasakan diri pada kenyataan yang tidak bisa kuatur sudutnya. Yang jelas dan kutahu adalah realitaku seindah mimpi buruk, bedanya hanya aku tak bisa bangun dan berpikir bahwa semuanya hanya mimpi. 

Ibu pergi dari rumah pada tanggal dua puluh delapan oktober dua ribu dua puluh tiga. Aku mengantarnya ke terminal, saling membicarakan hal-hal biasa. Aku terlihat tidak masalah dengan semuanya. Hanya saja waktunya merenggut kenormalanku hingga aku berjalan dengan tetes air mata yang tiba-tiba jatuh. Rasanya asin karena tidak juga berhenti sampai masuk ke dalam mulutku. Beberapa kali aku berhenti untuk tetap bernafas dan mengatakan bahwa ibuku hanya pergi sedikit jauh tapi aku maish bisa bertemu dengannya. Ibuku belum meninggal kok. 

Tepat tiga tahun setelahnya aku seperti kesetanan dan mengandalkan semua hal yang kubisa untuk membangun kerajaanku sendiri. Berawal dari Youtube dengan penghasilan pertama yang bahkan belum adsense pada saat itu. Hotel Sunan menghubungiku untuk bekerja sama. Rate cardku yang masih terbilang murah, 20 konten dibayar 10 juta rupiah. Bagiku yang mendambahakan uang banyak, hal itu cukup merisaukan karena ternyata aku masih ada yang melirik. Tidak hanya pada diriku sendiri. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memangku Jabatan

Berjalan di Mimpi, Bagaimana Caranya?

Bahagiaku Ada Lima Saat ini Seperti Nyanyian Balon