Terus Terang, Luka Cita Valerie Patkar
Menjadi manusia itu mungkin hal yang paling ga bisa kita hindari karena takdirnya begitu. Kita sudah terima jadi, bahkan hal yang menyertai kehidupan kita sebelumnya. Seperti dua karakter utama di Buku Valerie Patkar yang lagi santer dibicarakan, Luka Cita. Utara yang tidak ingin lagi berada di takdirnya sebelum tragedi yang menimpanya dan Javier yang menyerah karena tragedia. Keduanya tidak bisa menolak hidup dan takdir seakan semua cita-cita yang didambakan sudah selesai, mereka dikhianati oleh cita-cita mereka sendiri.
Sebelumnya aku sudah ngebet pengen banget beli di Gramedia karena nongkrong di rak atas dan termasuk buku terlaris. Jujur, aku memang kerapkali melihat rak paling populer, bukan karena fomo tapi pengen tahu masyarakat yang tingkat literasi seperti Indonesia ini paling banyak menyukai buku seperti apa sih. Kepo lebih tepatnya.
Yaudah deh akhirnya memutuskan menunda dulu karena uang banyak banget terpakai untuk kebutuhan yang lain. Fast forward a week ago, sudah sejak lebih dari sepuluh tahunan lebih aku ingin beli sebuah e-reader dan baru bisa menabung setahun belakangan karena baru dapat pekerjaan. Itulah walaupun harganya lumayan tetap nekat aku beli, toh aku pun seorang active reader butuh bacaan sangat banyak (kalau beli buku fisik banyak bisa langsung miskin) jadi e-reader dan gramdig subscription adalah jalan keluar.
Disitu aku lihat Luka Cita-nya Valerie Patkir nangkring di books populer. Oh iya lupa menyebutkan aku langsung beli satu bulan untuk fiction only di Gramedia Digital (Gramdig). Aku sikat di hari yang sama dan shockingly aku menghabiskan waktu lumayan untuk menyelesaikan novel ini. Bukan ingin mengatakan aku pembaca yang terlalu cepat mungkin jadi scanning saja, tapi memang novel yang mengasyikkan akan cepat habis iya atau iya?
Nah anehnya di seratus halaman pertama novel ini rasanya aku kurang sreg dan kurang bisa masuk ke dunia yang diciptakan sama Valerie Patkar. Tokoh-tokoh ini rasanya tidak bisa hidup tapi hanya sebagai nama di atas kertas putih. Tidak bisa aku menggambarkan tokoh ini di kepalaku. Kurangnya narasi yang menegaskan tokoh-tokohnya, latar belakang per tokohnya yang mungkin terlalu surface membuat aku tidak bisa memahami. Parahnya ada banyak tulisan tidak konsisten dalam penjelasan ataupun narasi yang diberikan. Sebagai contoh, bab awal menyebutkan si tokoh cewe sudah tahu tokoh cowo punya adik tapi di belakang dijelaskan dia kaget dan tidak tahu.
Mungkin bagi sebagian orang novel ini mengasyikkan karena menjelaskan tema lumayan berat secara sederhana karena mengangkat tema kesehatan mental. Butuh kemampuan yang mumpuni untuk menyusun narasi sederhana tentang kesehatan mental tanpa menjatuhkan siapapun. Itulah yang bisa menjadi sisi bagus dari novel ini, sederhana.
Dikemas sangat sederhana, plot yang tidak rumit dan penjelasan tokoh-tokohnya sangat surface, dimana itu semua ternyata tidak begitu aku sukai. Aku butuh narasi yang detail, seperti The Song of Achilles, atau seperti Aroma Karsa.
Namun memang penulis tidak seharusnya dibandingkan. Mereka memiliki gaya tersendiri dan itu menjadi kecintaan bagi para avid reader. Tulisan dari penulis itu sesuatu yang tidak bisa disalin begitu saja bagi penulis lainnya. Sebuah identitas yang akan terus dibawa si penulis sampai dia mengubah sendiri cara penulisannya.
Jadi secara keseluruhan aku akan berikan 3 bintang dari 5. Tidak terlalu bagus namun tidak terlalu buruk. Cocok untuk para pembaca pemula yang ingin mencicip novel yang lumayan tebal, ini bisa dicoba.
Ingat ya.
"My cup of tea is not your cup of tea"
artinya mungkin rasa teh dari teko yang sama akan menghasilkan rasa berbeda di mulut masing-masing. Tapi tidak menjadikan teh itu buruk atau baik. Opiniku jangan ditelan mentah-mentah dan anggap saja sebagai salah satu insight.
Talk to you later!
(you can watch the video version of this in my Youtube Channel later, more detail that i upload in November.)
Love shewearsword,
Anna


Hi, kak, makasih buat sharing buku ini.
BalasHapusBikin penasaran sama ceritanya
BalasHapusyah padahal udah antusias di awal ya kak, sayang ga sesuai ekspektasi.
BalasHapusSuka dengan alur reviewnya kak Anna. Thanks for your review .. ada ga sih novel yang menyadur kehidupan seseorang yang ingin memulai berkarir lagi heheheh pengen mulai baca novel lagi
BalasHapussebagai pengumpul recehan untuk membeli buku hehehe, ini okey sihhh. makacihh kakak reviewnya..
BalasHapusSetuju kak, rasa tiap orang ketika "merasakan" buku pasti berbeda
BalasHapusbetul banget..... tipe cerita yang disuka beda beda di masing orang (eh bener ga nih tulisanku) wkwk
BalasHapus