Masa Depan itu di atas Awan
Bayi nangis kedengeran di ruang kecil itu. Tidak ingat banyak tentu saja, tapi siwer cerita kalau bapakku tidak berani menengok karena takut. Saat itu bayinya baru tujuh bulan dan aku sudah pengen ke dunia. Entahlah, dapat bisikan dari mana kok mau aja cepet-cepet keluar dari rahim ibu yang enak dan nyaman. Ternyata bayinya perempuan dan diberi nama tidak kreatif oleh bapak setelah melihat majalah Indonesia di tahun 1994 kala itu.
Waktu taman kanak-kanak, aku ingin jadi model. Model yang melenggok di atas podium dengan semua baju cantik dan tepuk tangan terdengar di penjuru ruangan. Tidak perlu tersenyum, hanya perlu percaya diri bahwa aku memiliki baju tercantik seantero TK itu. Nyatanya, baju itu dibeli ibu dengan harga murah dan make up seadanya karena keluarga termasuk tidak mampu. Eh menang juara dua, mendapatkan piala kemudian cita-cita model itu muncul menggebu sampai jadi mayoret dan tampil dimana-mana.
SD aku beralih menyukai layout kardus yang aku buat sendiri menjadi rumah barbie lima puluh ribuan yang kubeli di pasar malam. Sepertinya arsitek adalah konsep berat anak berumur tujuh tahun jadi aku hanya mengatakan aku ingin membuat rumah, seperti rumah kardus barbieku. Di tahun ketiga, aku diajak kakak ponakan ke gereja. Bukan untuk sembahyang, tapi untuk membaca.
Kami muslim tapi berteman baik pada suster-suster dari gereja yang seringkali menawarkan untuk mengobrol tentang hidup seorang anak sekolah dasar. Disana aku bertemu Tintin, Chibi Maruko Chan, buku kreativitas dan Doraemon. Banyak sekali buku yang kuhabiskan sekali duduk karena tidak punya uang untuk menyewa. Disana, kecintaanku akan tulisan mulai tumbuh.
Setiap hari aku menulis di buku tulis dan bermimpi dibelikan komputer pentium 2 seharga satu juta. Tapi saat itu keluarga yang benar-benar miskin membuatku hanya melihat ke arah kamar apakah bapak benar membelikan. Sampai aku lulus, komputer itu tidak pernah juga datang. Tapi aku tidak pernah marah.
Sekarang setelah berpuluh tahun kemudian, satu hal yang aku sebutkan jika ditanya apa yang ingin aku lakukan? Cita-cita yang ingin kuraih? Karir yang ingin kutapaki? Akan kujawab, melakukan semua hal yang sekarang kulakukan dan hidup dari seni.
Nyatanya, dunia ini tidak pernah baik pada hal remeh seperti seni.
Padahal aku punya semua sumber yang bisa kubeli dengan uang karirku yang membosankan. Tapi ambisiku sekarang tidak sama seperti ambisiku saat duduk di sekolah dasar dulu. Aku sudah mati pada kapitalis dunia yang membutuhkan uang di setiap segi kehidupan.
Tapi biarkan sekarang ini aku ingin terbang ke awan dan memberikan cerita bagaimana hidupku di dalam kepala;
Tinggal di perumahan hijau yang sehat tidak menempel satu sama lainnya, aku memiliki satu ruang khusus. Ruang isolasi yang kusebut Safe Zone. Disana aku berbincang pada client yang memintaku stay di hotel milik mereka dan mereview tempat itu dengan uang yang lumayan untuk hidupku selama satu tahun. Setuju dengan tawaran itu, aku memberikan jadwal bahwa aku akan berangkat ke Bandung esok harinya.
Beranjak dari ruangan Safe Zone itu, scroll sosial media dan seperti biasa post tentang hidup dan digital jurnal yang aku upload kemarin kebanjiran pujian dan mereka merasa terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Senyumku merekah dan mengangguk tanpa satu orang pun tahu kenapa aku tersenyum seperti orang jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada orang-orang yang terinspirasi.
Seperti biasa, pada jam sepuluh pagi satu karyawan menghubungi untuk client yang ingin dibuatkan jadwal make up wisuda di hari paling bahagianya. Aku setuju dan mengatakan padanya untuk mengambil buket bunga gratis di ruko seberang rumah. Dia setuju dan menutup teleponnya.
Kemudian, sepanjang hari aku merencanakan seluruh pekerjaan sampai dua belas jam sebelum aku beranjak tidur.
Semua orang bermimpi, tapi aku sekarang ini bersyukur karena ujung mimpiku itu sekarang sedang kutapak jalannya. Satu pita besar di bawah kakiku dan sekarang aku melangkah ke ujung mimpiku itu. I live inside my own dream. So i hope i will focus on achieving that instead worried on a lot things i might not get.
Semoga kamu dan mimpimu berjodoh di ujung takdirmu ya.
Love Shewearsword,
Anna.

Semangat, kakak
BalasHapusasik banget ngebacanya. si kakak nulis dan menceritakan dream jobs nya bener2 keren.
BalasHapusbisa dibuat novel ini kak :)
BalasHapusSemangat kak
BalasHapussemangat, kakk. semoga aku ikut berjodoh dgn mimpi
BalasHapuskereeenn
BalasHapusnyatanya seni bukanlah hal yang remeh kak, aku selalu jatuh cinta sama dunia seni walau tak pernah pandai berseni. keren tulisannya kak.
BalasHapusKeren Kakkk sampai dapat job review hotel, ada tips & tricknya kah Kakkk?
BalasHapuskak, hearthwarming sekali
BalasHapusSenang sekali baca ceritanya Kak, bahasanya mengalir dan bikin aku juga ikut di dalamnya. Ayo dibikin novel kak. Salam kenal ya..
BalasHapustulisan kak sangat enjoy untuk dibaca
BalasHapus