Mencintai itu Berat
Kalau boleh, aku izin untuk tidak menginginkan satu emosi yang meluap itu. Menyenangkan memang dengan semua rasa yang pernah kita impikan hadir. Tapi seperti semua hal, mencintai juga ada tanggal kadaluarsanya. Seperti istri yang berjuang dari nol, mencintai tulus dan meninggalkan seluruhnya hanya untuk ditinggal menikah lagi dari satu-satunya orang yang bisa dijadikan sandaran. Marah pada siapa, keputusan awal dia yang mengambil. Menikmati racun tiap hari itu, rasanya memang mati rasa.
Lalu ada satu orang yang begitu indah datang menawarkan berbagai warna indah di dunia. Mencintai dengan kaki yang menapak pada danau kecil yang membeku. Mencoba sedikit demi sedikit mengambil bata dari temboknya yang tinggi. Selama bertahun-tahun dibangun untuk menjadi orang yang mencintai dengan tulus. Tapi dunia yang jahat ini juga mengambilnya dari gadis itu. Berkali-kali menginginkan kasih sayang, mengais pada cinta orang lain karena kehausan itu tak pernah terpenuhi di rumah.
yang akhirnya akan sama, diselingkuhi, ditinggalkan karena gadis itu terlalu menempel.
Seperti roll film yang sama, akan terus berputar di lubang setan itu. Katanya aku harus mengerti pada realita dunia yang memang pahit. Tapi aku senang tinggal di imajinasiku.
Sampai saat ini aku kembali menyusun batu bata dari bawah. Tidak lagi tersenyum dan cemburu, tidak lagi excited akan menceritakan sesuatu karena semuanya sudah kadaluarsa lagi. Akan seperti apa nanti hancurnya gadis itu? Bagaimana bentuknya di akhir nanti? Akankah seperti sampul buku dengan judul yang menarik? atau buku kehidupan usang yang tersimpan sampai rayap memakan seluruh lembar perkamennya?
Karena raungan tangisnya sudah lama terhenti. Tenaganya sudah habis dan sekarang hanya tetes mata mengalir tanpa emosi di wajahnya.
![]() |
| Artem's visual Gallery (cr : pribadi) |
now playing : drunk text - Henry Moodie
Stay.... just stay,
love shewearsword,
ELanna

Cerita novelkah ini??
BalasHapusPenggalan novel ya kak?
BalasHapusMelepaskan juga sama berat nggak si?
BalasHapusSambil membiarkan tetes mata mengalir, bikin film genre baru mungkin gak sih kak? Tapi, memang gak segampang itu.
BalasHapus