Sebuah Nominal di Bank

 Suatu hari, aku bisa menarik uangku lebih banyak dari biasanya. Membiasakan diri untuk menarik seratus perminggu agar bisa menghemat lebih banyak dan menekan pengeluaran. Tapi suatu hari setelah sedikit lepas dari dunia freelance dan memutuskan menambah penghasilan akhirnya bisa mengeluarkan uang lebih daru seratus perminggu. Walaupun memang tentu saja aku berusaha untuk tetap menghabiskan seratus ribu karena berpikir bahwa ada tambahan bukan berarti boleh menambah pengeluaran. Toh cita-citaku juga belum seratus persen terlaksana. 

Bisa membelikan ibu sedikit, menambah uang jajan adik dan bisa jalan-jalan liburan sebanyak apapun yang kuinginkan. Aku bersyukur sekali saat ini ada banyak hal yang dulu pernah aku impikan tapi belum bisa terlaksana karena terkendala uang. Sekarang saat aku merasa cukup dan bersyukur ada satu hal yang merisaukan datang. 

Orang tua yang menjadi kritikus paling yahud. 

Aku memang bukan orang berhasil untuk mendapatkan lebih banyak dari mereka. Tapi jikalau nanti aku hidup sendiri sepertinya uang yang kuhasilkan cukup-cukup saja dan tidak akan membuatku kelaparan di tengah bulan, bahkan aku yakin tidak harus berhutang sana sini. Kritikan tiba-tiba datang dari orang yang paling tidak kusangka-sangka. 

Penghasilannya hanya sekian saja sudah sombong, apalagi nanti jika sudah punya banyak. 

Mereka mungkin tidak tahu tapi kalimat itu sungguh menghancurkan banyak sel bersyukur yang ada di kepalaku. Seluruh tubuhku rasanya hancur berkeping-keping dan apa yang bisa kulakukan sebagai anak? Memendam apapun emosi yang keluar karena toh menjawab tidak ada gunanya. 

Tidak hanya membuat sel bersyukur hancur berantakan, entah keping mana yang berhasil diselamatkan tapi juga membuatku risau akan semuanya. Aku juga merasa begitu rendah hati menghadapi semua orang. Kebanyakan aku mengtakan gajiku di atas dari gajiku yang sebenarnya hanya karena tidak ingin mereka mengasihaniku. 

Tapi sekarang? 

Mereka yang mengatakan dan mengecilkan hal yang kudapatkan meminjam uang jauh lebih banyak daripada yang kuhasilkan. Sekali lagi sebagai anak aku tak bisa sama sekali untuk membantah. Aku mengambil beberapa juta permintaan mereka dari tabungan menyisakan beratus ribu disana. Lalu meminta lagi untuk dipesankan hotel, mengatakan meminjam lagi. Aku berikan lagi dan memesankan hotel seperti permintaan mereka. Lagi, tak ada yang bisa kukatakan selain menutup mulut rapat dan membiarkan rasa sedih saja yang keluar. 

Bahkan satu juta pun aku tidak punya di tabungan. 

Semoga Allah menjadikanku orang tua yang tak pernah merendahkan anak nantinya. Memudahkan hidupku agar terhindar dari kesulitan ekonomi. Jangan mengritik, merendahkan orang lain. Toh kamu ga tahu kapan kamu membutuhkan mereka dan aku yakin kamu akan membutuhkan mereka nantinya. 

Aku tak tahu sekarang harus seperti apa, diam pun rasanya makin rendah diri tapi tak mungkin juga menjawab apapun. Yang bisa kulakukan adalah memberikan kisah sederhana untuk dijadikan sebuah pelajaran dan sejarah yang masih kubaca. Toh jika bersedih salah satu obat adalah menjelaskan dan menuliskannya agar stres tidak hanya di kepala tapi keluar bersama tulisan-tulisan. 





Stay humble, 

Love, Shewearsword.

ELanna.

Komentar

  1. Peluk jauh ka ELanna, kuat yaaa, ada Allah bersama kita

    BalasHapus
  2. kak, u doing fine! tapi jangan lupa untuk mengasihi diri sendiri y kak. seperti naik pesawat, utamakan menyelamatkan diri sendiri sebelum menyelamatkan orang lain. kuat-kuat anak baik :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Kak, saya dulu juga sering memprioritaskan orang lain diatas diri saya. Sebab, saya ingin menjadi orang baik & takut dianggap tidak baik. Hal itu ternyata tidak membuat saya bahagia, sebab berbuat baik kepada orang lain dengan mengorbankan diri sendiri rasanya bukan konsep yang tepat. Saya merasa menjadi semakin kosong. Setelah itu, saya mulai belajar self love & setting boundaries dalam waktu yang tidak sebentar.
    Saat ini saya lebih bisa memilih memprioritaskan & bertanggungjawab kepada diri saya terlebih dahulu sebelum memberi ke orang lain. Harus ada air yang tersisa di teko untuk diri sendiri terlebih dulu, sebelum menuangkan air ke cangkir orang lain. Dengan begitu kita akan selalu merasa penuh & utuh. Semangat kak!

    BalasHapus
  5. Kita yang sudah berjuang tanpa kenal waktu untuk menghidupi diri sendiri. Sedang orang lain datang meminjam dengan mudahnya. Mereka tidak pernah tahu seberapa besar perjuangan kita untuk menekan segala pengeluaran. Berharap jika ingin sesuatu tidak perlu mencari pinjaman sana sini, termasuk meminta pada orang tua.

    Sayang kakak banyak-banyak, yuk susun lagi kepingan-kepingan sabar dan ikhlasnya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu mempermudah segala urusan kita.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memangku Jabatan

Berjalan di Mimpi, Bagaimana Caranya?

Bahagiaku Ada Lima Saat ini Seperti Nyanyian Balon